Love For Star (Part 1)


http://intanirreplaceable.files.wordpress.com/2009/12/bintang-berjalan.jpg

Emm..
Dah lama nih ga posting..
Mau post cerita boleh ya..

—————————————————————

“And here we go again..
With all the things we said..
And not a minute spent..
To think that we’d regret……”

Terdengar lagu yang tidak asing lagi dari saku celana jeans-ku. Ah, gawat !. Aku lupa mematikan ponselku. Dan lagi ruangan ini sekarang terasa hening, pasti akan sangat terdengar. Aku langsung cepat-cepat mematikan ponselku.

“Suara apa itu ?”. Tanya Dosen yang dari tadi berdiri mengawasi di depan.

“Ponsel siapa yang bersuara ?!.. Ini sedang ujian !!”. Tambahnya dengan nada keras.

Semuanya terdiam, dan tak satu pun yang bersuara. Deg, aku merasa takut dengan tatapan mata Dosen itu yang dari tadi melotot mencari asal suara. Pak Iwan ini memang terkenal jahat di kampusku. Hampir semua mahasiswa di sini takut padanya.

“Suara Ponsel siapa itu ?!”. Tanya lagi pak Iwan dengan nada yang lebih keras.

Akhirnya aku putuskan untuk mengaku saja. Daripada nanti masalahnya jadi tambah rumit. Ah, semoga saja tidak terjadi hal yang mengerikan.

“Po.. Ponsel saya, pak !”. Kataku gugup dengan mengangkat tangan kananku. Deg-degan rasanya.

“Oh.. Jadi kamu pemilik ponsel itu”. Katanya sambil menunjuk ke arahku. “Segera matikan ponselmu atau kamu akan saya suruh keluar dan kamu tidak dapat mengikuti ujian dari mata kuliah saya !!”. Perintahnya dengan terus memelototiku.

“Ba.. Baik, pak”. Kataku gugup.

Aku segera menanggapi perintahnya. Ku matikan ponsel dan benar-benar tidak akan bersuara lagi. Ah, untung saja aku hanya ditegur, tapi matanya itu yang membuat aku takut. Kalau saja tadi aku disuruh keluar, bisa bisa aku tidak lulus mata kuliahnya lagi. Untunglah kejadian yang mengerikan itu tidak terjadi.

****

“Vino, tunggu !”. Sapa Ryan dari jauh dan berlari mendekatiku. Dia datang dengan Putri. Mereka adalah sahabatku dari semenjak SMA. Kami bertiga selalu kompak dan mengisi satu sama lain. Bahkan sekarang kita kuliah dengan jurusan yang sama.

“Apa..!”. Jawabku lemas.

“Kenapa kau lemes gitu?”. Tanya Putri sambil menepuk pundakku.

“Ah, pasti gara-gara tadi kena marah pak Iwan, ha ha..”. Belum aku jawab, Ryan sudah menjawabnya. “Lagian kau juga sih, pake lupa matiin hape. Dasar ceroboh !!”. Omel Putri padaku.

“Ya sudahlah, jangan sedih gitu. Lagian pak Iwan tidak mengeluarkan kau tadi”. Kata Putri berusaha menyemagatiku. “Mau ikut kita ga?”. Lanjutnya mengajakku.

“Ah, tidak, aku pulang saja. Badanku terasa cape. Silahkan kalian senang-senang berdua”. Kataku menolak. Mereka memang sudah lama pacaran. Setiap kita jalan bareng, pasti aku yang jadi kacangnya. Tapi, biar begitu mereka tetap sahabat terbaikku.

“Ya sudah, kita pergi dulu ya. Daa..”. Kata Ryan sambil merangkul pundak Putri dan beranjak pergi.

Ya memang sih, aku terlihat begitu lemas tidak semangat. Mungkin karena kelelahan.

***

Aduh, panasnya. Ingin segera aku berendam di Kolam. Cepat aku melepas Helm dari kepalaku yang sudah basah oleh keringat. Kumatikan mesin Motor warna biruku. Dan segera aku masuk ke dalam rumah.

Bruk, ceroboh. Saking ingin cepat berendam, aku sampai terjatuh tersandung oleh batu. “Siapa sih yang meletakan batu di sini?”. Kataku kesal sambil melemparkan batu itu.

Segera aku beranjak. Untung saja tidak ada yang lihat. Kalau sampai ada yang lihat, pasti aku akan sangat malu. Sepertinya hari ini aku sedang dilanda kesialan. Huft….

“Mobil siapa itu?”. Aku melihat ke arah rumah kosong. Sebuah mobil Sedan berwarna hitam tepat di depan rumah kosong yang berada di sebelah rumahku. Rumah itu memang sudah lama tidak berpenghuni. Hanya saja tiap satu minggu sekali seseorang datang untuk membersihkannya. Ah, sepertinya aku akan memiliki tetangga baru. Baguslah. Karena memang selama ini rumah itu terlihat menyeramkan. Apalagi disaat gelap.

Aku segera masuk sambil memegangi tangan kiriku yang terasa sakit akibat terjatuh tadi.

“Vin, ada apa dengan tanganmu? Kenapa dipegangi seperti itu?”. Terdengar suara yang familiar bagiku.

“Oh, ini ma. Tadi terjatuh di depan. Tapi ga papa kok, cuma lecet sedikit”. Jelasku sambil melepaskan peganganku. Berusaha tidak memperlihatkan rasa sakitnya pada mama. Padahal ini terasa perih.

“Coba mama lihat lukanya”. Menarik lenganku yang sakit.

“Mama obatin, ya”. Katanya sambil terus memperhatikan lukanya.

“Tidak usah, ma!. Biar Vino oboti sendiri. Ini cuma luka kecil saja. Diberi Plester(plester luka) nanti juga rasa nyerinya hilang!”. Jelasku dan menarik lenganku yang dari tadi dipegang oleh mama. Aku tidak boleh lemah di depannya. Aku sudah semester dua. Memang selama ini mama memanjakan kami berdua setelah kepergian papa(baca meninggal). Dan kini mama yang harus menggantikan tugas papa sebagai tulang punggung keluargaku. Beserta sebagai ibu.

“Ya sudah, sekarang kamu istirahat gih. Dan jangan lupa obati lukanya!”. Perintahnya sambil memegang pundakku.

“Beres, ma!”. Jawabku santai sambil memberi jempol.

Aku berjalan ke arah kamarku. Bruk, suara tas yang ku lempar ke ranjang. Aku meraih kotak P3K yang terletak di atas lemari. Ku rogoh kotak itu berusaha menemukan obat merah(obat tetes luka yang berwarna merah) dan plester. Segera ku teteskan obat itu ke siku tanganku. “huh perih..”. Rintihku. Ku diamkan sejenak dan ku lanjutkan dengan menempelkan perekat yang berwarna abu itu.

Aku merebahkan tubuhku diranjang dan menghela nafas panjang. Terasa nyaman dan lega. Seperti semua beban hari ini telah hilang dari pikiranku.

***

Tunggu ya kelanjutannya… ^^

Other Articles :

Posted by 5630xm

Iklan

9 thoughts on “Love For Star (Part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s