Aku, Hidupku dan Keluarga


image

Aku adalah anak tahun ’90. Kelahiran asal Jawa, kata orang tuaku. Tiga bersaudara, aku anak yang terakhir. Kedua kakakku perempuan, dan kini mereka telah berkeluarga. Tidak banyak cerita aku dengan Orang tuaku. Karena dari sejak kecil aku diasuh dengan kakak-kakaku. Sedangkan kedua orang tuaku sibuk mencari nafkah di kota metropolitan. Aku sangat jarang bertemu dengan mereka. Itupun hanya satu tahun sekali saat Hari Raya. Kerinduan selalu menghampiri di sela-sela hari. Hingga terkadang aku harus rela meneteskan air mataku untuk mereka.

Hari semakin aku terbiasa dengan keadaan ini. Rindu, sedih tidak lagi terasa menyakitkan. Aku kini tumbuh menjadi anak yang sedikit mengerti tentang hidup, dunia. Bahwasannya kita tidak bisa terus berlarut dalam kesedihan. Aku percaya akan kebahagiaan. Ya, benar, hidup yang meyulitkan ini akan memberiku kebahagiaan. Meskipun kebahagiaan itu hanya sesaat.

Aku harus berpisah dengan kedua kakakku. Kerana mereka telah memiliki tanggungjawab masing-masing sebagai seorang istri. Saat itu aku harus benar-benar bisa merelakan. Meskipun air mata ini terus menetes deras. Aku sangat kesepian. Aku dan kesedihan ini. Dan aku hanya dengan nenekku. Aku tinggal bersamanya.

Aku telah tumbuh menjadi anak dewasa. Aku senang dapat meninggalkan sedikit kesedihan itu. Hidup yang telah mengajarkanku untuk selalu bersabar. Jangan takut sedih, kelak kita akan mendapatkan kebahagiaan. Apapun bentuknya itu. Begitu juga sebaliknya, Jangan terlalu menikmati kebahagian, bila tidak ingin berakhir dengan kesedihan. Kini aku tinggal bersama kakak sulungku di kota kembang. Untuk melanjutkan pendidikan. Di sini aku mendapatkan pelajaran baru akan hidup. Akan kebahagiaan ini aku bisa semakin merasakannya. Juga teman, pengalaman dan warna baru kehidupan. Aku senag tinggal di sini. Banyak hal-hal baru yang dapat kupelajari.

Kini aku telah bekerja. Aku bekerja dengan kakakku. Beserta adik kakak iparku. Aku serahkah sebagian hidupku pada kakakku. Mereka membimbingku, memberiku pengalaman akan susahnya hidup. Meskipun hanya pekerjaan biasa. Tapi aku senang mengerjakannya. Tapi kejanggalan hati mulai terasa. Aku mulai merasa peranku di sini bukan sebagai adik lagi, melainkan hanya orang lain yang sedang bekerja pada majikannya. Aku hanya bisa bersabar untuk menghadapi semua ini. Mungkin ini adalah ujian, ujian dari Allah. Ujian akan rumitnya hidup. Senantiasa ku terus belajar untuk menerima kenyataan. Dan ini mendorongku untuk tumbuh menjadi mandiri dan lebih dewasa. Meskipun aku sering mengeluh akan pahitnya hidup ini. Karena aku juga manusia yang tidak sempurna. Ini adalah pengalamanku. Usahaku. Dan di dalmanya juga penuh liku. Sabar, tabah memang modal untuk ini. Tapi inilah hidup, inilah kenyataan. Hal itu tak mudah untuk dilaksanakan. Itu sangat menguji. Hati dan pikiran.

Ini adalah modal untuk masa depanku. Dan aku percaya akan sesuatu hal tentang keajaiban. Aku yakin kebahagian telah menantiku di sana. “Hidup, bimbinglah aku di likunya jalanmu. Tuk dapat mencapai citaku”

Aku percaya, Allah mempunyai rencana untuk kesulitan ini. Karena Allah Maha pengasih dan penyayang.

Maafkan aku. Anakmu ini belum bisa membahagiakan kalian. Mungkin semua ini adalah proses pendewasaan. Yang belum juga sempurna. Dan yang akan keluar dari mulut ini hanyalah janji dan janji. Aku akan terus berusaha. Untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hidup ini. Kebahagiaan untuk kita. Semua. Untukmu, kedua orang tuaku.

Ibu, ayah. Aku sangat menyayangi kalian. Meskipun kita jauh, jarang bertemu, tapi hati ini selalu merindukanmu. Selalu tersimpan ruang untukmu. Kalian adalah kebahagiaanku. Segalanya untukku. Aku akan terus belajar tuk menjadi anak yang selalu berbakti.

Terima kasih untuk kasih sayangmu.

Posted from WordPress for Android

Iklan

4 thoughts on “Aku, Hidupku dan Keluarga

  1. semua akan indah pada waktunya yud. Lama jarang ngeblog jadi ga pernah blogwalking kesini. Mampir ke blog lama ku ya, udah kusam keknya hehe

  2. Kedua, kebahagiaan seksual. Sudah menjadi fitrahnya, dalam kehidupan rumah tangga suami istri ingin meraih kepuasan seksual. Islam menuntunkan agar istri senantiasa bersiap memenuhi panggilan suami, tapi juga diajarkan agar suami selalu memperhatikan kebutuhan seksual istri. Ketika sepasang suami istri secara bersama dapat mencapai kepuasan seksual, maka mereka akan merasakan kebahagiaan seksual. Terlebih bila dari aktifitas seksual itu kemudian terlahir anak. Dengan pendidikan yang baik tumbuh menjadi anak yang shalih dan shalihah, kebahagiaan akan semakin memuncak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s