Kembalilah, PeriKecil-ku..


image

Aku sedang berada dalam sebuah gerbong kereta api. Karena libur kerja, jadi aku memutuskan untuk berkunjung ke saudara yang ada di Bandung. Sekaligus aku ingin bertemu dengan dia. Rasanya kangen sekali.

Saat itu kereta melaju dengan kencang. Aku tiba tepat jam 12:00. Senang rasanya bisa bertemu lagi dengan kakakku. Kami berbincang cukup lama. Aku menceritakan semua kegiatanku sewaktu di Jakarta.
Singkat cerita, Haripun sudah mulai gelap. Malam ini aku berniat datang kerumahnya sambil membawa oleh-oleh yang ku bawa dari Jakarta. Saat di jalan, pikiranku tidak bisa tenang. Hati ini bercampur aduk, antar senang, kesal, benci dan lainnya yang tidak bisa aku tuliskan di sini.

Aku tiba di depan rumahnya. Aku melihat ada sebuah motor yang terparkir di depan rumahnya. Aku mengintip sedikit dari pintu yang terbuka sedikit. Tapi cukup jelas untuk melihat ke dalam. Dan aku tidak melihat siapapun di sana. Tapi aku mendengar suara seperti orang yang sedang mengobrol. Dari situ aku putuskan untuk kembali lagi. Aku tidak jadi ke rumahnya. Lalu aku berjalan menuju jalan raya. Dan aku duduk di trotoar sana. Aku menunggu, aku berharap tamu itu cepat pulang.

Sekitar satu jam lamanya aku ditemani angin malam yang dingin. Aku berniat untuk kembali ke sana. Dan berharap tamu itu sudah pergi.

Kini aku di depan rumahnya, sama seperti saat aku datang tadi, motor itupun masih ada dan pintu juga tetap terbuka sedikit. Karena penasaran, aku putuskan untuk masuk.

Ketika aku akan menekan bell,  terdengar suara lelaki dan perempuan dari dalam. Aku menurunkan tanganku kembali. Dan tiba-tiba pintu itu terbuka. Seseorang telah membukanya. Mungkin dia terkejut melihatku sudah berdiri di depan pintu.

“DEG-DEG”

Tiba-tiba dadaku terasa sesak. Yang sedang berdiri di depanku ternyata bukan dia seorang, tapi di sebelahnya ada laki-laki. Pikiranku langsung kacau. Aku tidak dapat bicara apapun. Aku hanya ingin pergi dari tempat ini sekarang. Aku tidak kuat. Saat itu juga aku berikan sebuah kantong plastik hitam yang ku bawa dari Jakarta. Saat itu pula aku ingin pergi. Tapi, dia menahanku. Tanganku dipegangnya erat. Lelaki itupun pamit pulang. Pikiranku masih melayang-layang tentang lelaki itu. Dia siapa? Dan kenapa dia ada di sini? Apakah dia…

Lalu dia menarikku ke dalam. Tapi aku meronta tidak mau. Aku mencoba melepaskan tanganku sambil merengek  kalau aku ingin pulang. Tapi dia tetap menarikku dan semakin kuat saja. Tiba-tiba ia menangis tepat di lenganku Akupun langsung diam. Sambil terduduk dia tetap memegangi tanganku dan menangis. Aku tidak bisa berkata apa-apa.

Lalu ia berkata “Maafin aku. Aku minta maaf. Apa kamu membenciku? Hiks.. hiks… Sampai kamu tidak ingin melihat wajahku.. hiks.. hiks… hei, lihat aku!! Aku tahu pasti kamu berfikir macam-macam tentang laki-laki tadi.. hiks.. hiks.. Dia hanya temanku. Teman biasa. Dia memang suka curhat denganku. Tadinya ada teman perempuan juga yang datang ke sini. Tapi, karena dia pulang duluan, Jadi tinggal dia. Terserah jika kamu percaya atau tidak.. hiks.. hiks.. ”

Memang pada saat itu aku tidak berani melihat wajahnya, apalagi jika harus menatap matanya. Bukan karena aku membencinya, melainkan aku takut turut sedih. Aku takut air mataku menetes.

Aku mencoba menenagkannya. Saat itu pula aku menatap matanya. Aku mencoba menguatkan hati ini. Tentang lelaki itu masih melayang-layang di pikiranku. Memang rasanya sangat perih.

Kita membicarakan tentang hubungan ini. Kita duduk di sebuah sofa. Dia tetap memelukku dari samping sambil menyandarkan kepalanya di pundakku.

FLASHBACK…

Hubungan kita berjalan selama 3 tahun.  Kita sangat bahagia. Aku masih ingat kenangan-kenangan kita dulu. Setiap kita nge-date, tidak lupa dengan makan batagor di sebuah warung kecil yang terletak si pinggir jalan. Nonton bioskop, main di TimeZone, makan burger, makan ayam bakar, atau hanya sekedar jalan-jalan dengan sepeda motor. Karena aku tidak punya sepeda motor, jadi setiap kita keluar pasti memakai motornya.

Selama itu kita berhubungan di balik tembok. Maksudnya Backstreet. Kita tidak ingin salah satu dari keluarga kita mengetahui ini. Karena memang hubungan keluargaku dengan keluarganya masih sangat dekat. Kekasihku adalah saudara sepupuku.  Dan dari sinilah keretakkan hubungan kami muncul. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menyudahi hubungan ini. Aku tidak bisa terima semua ini. Karena aku masih sangat menyayanginya. Aku tidak mau kehilangan dia. Dia meyakinkanku tentang Keluarga kita. Dia hanya tidak ingin keluarga kita retak hanya karena mengetahui hubungan kita. Dia takut keluarga kita jadi saling bermusuhan.Dia lebih memilih keluarga daripada aku.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Yang ku katakan padanya hanya aku masih sayang padanya.

Pada intinya putusnya hubungan kami bukan karena kita saling membenci. Tapi karena rumitnya keluarga. Tentang perasaan,, masih sama seperti dulu. Kami masih saling mencintai.

.
.
.
.

Kini aku jadi sering melamun, sedih, cengeng suka menangis. Perih rasanya ketika aku tahu dia sedang dekat dengan seorang laki-laki. Dia bilang ingin melupakanku dan membuka hatinya untuk orang lain. Aku membantah semua itu. Aku tidak ingin kehilangan dia. Bukan seperti ini akhir yang aku inginkan.

Aku sudah mencoba bicara padanya. Aku meyakinkannya. Tapi dia tetap pada keputusannya itu. Aku bingung harus bagaimana. Sampai saat ini hatiku masih terasa sakit. Aku hanya ingin dia kembali padaku. Aku ingin hubungan kita kembali seperti dulu. Tentang keluarga mungkin nanti kita bisa bicarakan baik-baik. Tapi bukan seperti ini.

Apakah kamu tahu? Kamu seperti pembunuh berdarah dingin. Sakit sekali rasanya. Kau bahagia tapi kau biarkan aku tersiksa. Kau sibuk menata hatimu yang baru tapi kau mencapakanku. Aku tidak akan melakukan itu padamu. Aku tidak bisa.

Hidup memang tidak adil. Dan aku tidak bisa membiasakannya. Aku tidak bisa menerima semua ini. Aku masih ingin merasakan kasih sayangmu. Aku masih ingin merasakan kebahagia bersamamu.

Kembalilah untukku… aku mohon..

Kamu bilang kamu punya perasaan. Tapi mana buktinya. Kamu menyakitiku. Kamu selalu bilang padaku “kamu pasti kuat” “mungkin karena kamu belum menemukan pendamping baru”. Aku tidak semudah itu. Aku tidak sekuat itu. Dengan mudahnya kamu bilang seperti itu padaku. Apakah kamu tahu rasanya hatiku sekarang? Tidak bisakah kamu memikirkan sedikit tentang hatiku?

Aku tahu keluarga buatmu jauh lebih penting daripada aku. Aku mengerti akan hal itu. Tapi kamu harus ingat, bahwa aku juga pernah menjadi bagian terpenting di hidupmu. Kamu juga bilang, aku adalah motivasi mu. Apa karena sudah merasa tidak dibutuhkan, lalu kamu membuangku begitu saja. Apa sesampah itukah aku?

Mohon, berikan pikiranmu sedikit untuk hati yg kecil ini. Aku terpuruk. Apa kamu tidak pernah berfikir seperti itu? Aku manusia buka robot. Aku punya hati dan perasaan.

Coba tengok sedikit ke belakang. Di sana ada aku. Apa kamu melihatnya? Iya, benar. Itu aku yang sedang mengisi hari-hari indahmu. Coba kamu masuk lebih dalam lagi. Di sana juga ada aku. Apa kamu melihatnya? Iya, benar. Itu aku yang sedang duduk manis di sampingmu. Coba sekarang kamu lihat ke depan. Majulah sedikit. Di sana ada aku. Apa kamu melihatnya? Jika tidak, aku minta kamu maju sedikit lagi. Sekarang apa kamu bisa melihatnya? Jika iya, coba sekarang panggil dia. Pasti dia akan menghampirimu.

Aku minta maaf atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan dulu. Itu tidak lebih dari kebodohanku.

Dan izinkan aku untuk memperbaikinya. Lihatlah aku yang sekarang. Aku hanya ingin kamu melakukan itu.

Aku masih mencintaimu. Tulus dari hati yang penuh luka ini. Aku membutuhkanmu. Aku menyayangimu.

Hati ini hanya untukmu seoarang. Selamanya….

Kembalilah untukku…

PeriKecil-ku….

Iklan

One thought on “Kembalilah, PeriKecil-ku..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s